Si Putih dan si Manis

 Di ujung jembatan kecil sebuah desa, tak jauh dari rumahnya, Manis seekor kucing mungil duduk menyendiri. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh Putih, anjing nakal yang usil.  Putih terus memainkan ekor si Manis, dengan harapan agar Manis meresponnya, tapi Manis tetap diam membisu dengan tatapan kosong.

Putih pun perlahan- lahan duduk di samping si Manis.

"Manis... Kamu kenapa?? Apa yang membuatmu tak seceria hari-hari kemarin?" Tanya Putih.

Manis tak menjawab apa-apa, pelupuk matanya mulai digenangi butiran bening, dan perlahan mengalir membasahi wajahnya.

Putih semakin bingung, tak pernah ia melihat sahabatnya sesedih itu. Ia lalu memberanikan diri memeluk Manis.

Tangis Manis akhirnya pecah di pelukan Putih. Dengan masih terisak, Manis menceritakan apa yang sedang dialaminya.

" Ak...aku.... Bingung, harus mencari pinjaman ke mana lagi" katanya terbata-bata.

"Uang tabunganku sudah habis untuk berobat sedangkan sakitku tak kunjung pulih... Aku sudah lelah dengan sakit ini, dan kadang aku berpikir untuk mengakhiri hidupku saja mungkin dengan jalan itu semua bebanku selesai" kata Manis melanjutkan ceritanya. Putih terperanjat mendengar cerita Manis.

"Apa???? Mengakhiri hidup katamu" Tanya Putih.

Sumber: https://pixabay.com



Putih tak menyangka Manis sahabatnya yang terkadang suka menyendiri itu sempat berpikir mengakhiri hidupnya sendiri.

"Aku punya sedikit tabungan, mungkin kamu bisa memakainya dulu," kata Putih menawarkan. 

Manis menolak secara lembut katanya, "Tidak Putih, aku tidak mau berhutang padamu, aku takut tak dapat mengembalikan secepatnya!"  

Putih menjelaskan, "Jangan berpikir seperti itu, silahkan kamu pakai untuk mengobati sakitmu. Aku juga tak memintamu untuk mengembalikannya." 

"Tapi....!" 

Belum usai Manis berbicara, Putih telah berlari meninggalkannya. Tiba-tiba ia kembali dengan membawa dompet kecil berisi uang tabungannya.

"Ini. Pakai saja dulu. Sekalipun kita sering tidak akur, tapi bukankah kita harus saling tolong menolong? Bersahabat itu bukan untuk saling mencari keuntungan melainkan untuk saling berbagi dan menolong apapun keadaannya." Putih  menyerahkan dompet itu sambil tersenyum pada Manis.

Manis menerima pemberian si Putih sambil terus mengucapkan terima kasih dan berjanji akan selalu menjadi sahabat yang baik.



Penulis: Rama Kirana Radja Hedo
Editor: Admin

Komentar

  1. cerpen, sebagai pemula yang cukup baik; teruslah mengasah kemampuan dengan membaca. Ketika membaca, selain untuk memahami, perhatikan di sana tata tulis, ejaan, dan terlebih trik menghidupkan konteks sehingga emosi pembaca terbangun dan mau untuk terus berada dalam area membaca. Kita belum jauh berjalan, namun sudah ada langkah yang digeser dan mulai mengangkatnya untuk melayang dalam makna menulis. Keren..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu tak Beristirahat

Fuaboon Sufa'

Kualitas Isian Waktu Liburan