Kaka Kiki
Kaka Kiki
Pada kesempatan
menulis kali ini saya diberi kesempatan untuk berimajinasi tentang dua hewan
yakni anjing dan kucing. Tulisan yang saya buat saat ini sebenarnya adalah imajinasi belaka berupa pengalaman bersama kedua hewan. Dari google saya
mendapatkan sepenggal deskripsi tentang anjing yakni hewan mamalia yang telah
dijinakkan dari serigala. Anjing merupakan hewan yang setia, cerdas dan pandai
menjaga tuannya. Berdasarkan sifatnya-sifatnya ini, maka anjing banyak dipelihara manusia.
Kaka adalah nama anjing yang kami miliki pertama kali, ketika kami menikah. Kaka juga teman perjalanan istri saya sebelum kami menikah. Saat istri saya bertugas sebagai pendeta pada Gereja Masehi Injili di Timor tepatnya di Jemaat GMIT Oelbiteno. Jemaat Oelbiteno berada Kecamatan Fatule'u Tengah.
Kaka
memiliki ciri ciri fisik antara lain:
memiliki bulu berwarna hitam seluruhnya, telinga agak runcing, ekor dengan bulu yang lebih lebat. Ia memiliki suatu kebiasaan yang unik yakni
setiap hari Minggu akan ikut
berbakti ketika istri saya memimpin ibadah di gereja. Ia ikut berdiri dan berdoa di ruang persiapan Majelis Jemaat yang disebut konsistori,
berbaring di bawah mimbar saat istri saya berkhotbah,, saat
selesai ibadah Kaka akan ikut berdoa
bersama para anggota Majelis Jemaat di konsistori.
Kebiasaan–kebiasaan ini terus dilakoni oleh Kaka saat istri saya berpindah tugas di jemaat yang baru yakni di Jemaat Siloam Oelbioin, Kecamatan Fatule'u. Ada cerita unik ketika kami sedang mengurus persiapan untuk menika di Kota Kupang, sementara Kaka tetap tinggal di Pastori jemaat.
Ketika hari Minggu tiba ketika lonceng gereja berdentang, Kaka pun ikut bergegas ke dalam gereja mengikuti ibadah. Ketika ibadah usai Kaka pulang ke Pastori.
Ada pesan
moral yang kami dapatkan bahkan diungkapkan oleh beberapa anggota Majelis Jemaat, bahwa Jika Kaka saja yang adalah hewan yang tidak berakal budi tapi tahu beribadah pada
hari Minggu, bagaimana dengan kita yang adalah manusia berakal budi? Apakah kita tahu mengucap syukur
dan beribadah?
Kaka terus menjalani kehidupan hingga termakan usia mencapai kurang lebih delapan tahun. Ia meninggal. Jasadnya kami bungkus dan kuburkan layaknya jasad manusia. Kami mengenang dirinya pada nilai kesetiaan.
Kiki adalah nama kucing yang kami miliki. Sekitar tahun 2013 hingga tahun 2019 kami menempati rumah pastori Klasis Fatule'u Barat yang berpusat di Camplong. Saat itu istri saya menjabat sebagai Ketua Klasis.
Kiki memiliki sepasang kaki depan yang tidak sempurna sehingga jalannya seperti terseok–seok. Dengan ciri–ciri memiliki bulu lembut berwarna hitam putih. Kiki memiliki kebiasaan jika berada dekat kami ia akan berusaha untuk mengeluskan bulunya yang halus pada tubuh kami. Walau memiliki kaki depan yang tidak kuat dan tidak selincah kucing pada umumnya, namun selama kurang lebih enam tahun bersama kami.
Kiki tergolong kucing
yang setia, setia pula dalam merawat anak–anaknya. Ada pesan moral yang kami dapatkan dari Kiki walau dalam
keterbatasannya dia tetap setia menjalankan tugas dan perannya sebagai seorang
ibu yang terus merawat anak – anaknya.
Dua hewan ini sesungguhnya tidak bisa akur, seiring-sejalan. Sering kita manusia bertengkar diidentikkan dengan ungkapan seperti anjing dan kucing .
Dari kisah kedua hewan ini saya belajar dua
hal, Pertama sesungguhnya orang yang
berbahagia adalah orang yang tau bersyukur, sebab bukan karena bahagia dia
bersyukur tetapi karena tahu bagaimana cara bersyukurlah yang membuat dia
berbahagia. Kedua sesungguhnya setia
itu mahal, karena itu setialah dalam perkara–perkara kecil, maka niscaya
perkara besar akan dipercayakan padamu.
Penulis: Alex Faot
Editor: Admin

Terima kasih untuk waktu belajar berharga ini terima kasih bapa Roni
BalasHapusCerita ini mengajarkan saya untuk selalu SETIA DALAM MENGERJAKAN SESUATU
BalasHapusbaik itu hal kecil maupun besar saya harus tetap SETIA mengerjakannya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Benar bahwa dr makhluk ciptaan Tuhan yang lain,kita dapat belajar nilai kehidupan
BalasHapuspak Alex, ingat selalu untuk membaca; sesibuk-sibuknya sebagai guru pembina untuk rekan-rekan di sekolah, tetaplah harus ada waktu membaca. Sesibuk-sibuknya sebagai Koster.. hehe... ingat untuk membaca. Membaca sebagai sarana untuk menutrisi otak kita. Otak kita daya tampungnya lebih banyak daripada hard disk .. hehe.. Memang patut diakui bahwa da keterbatasan kita, tapi mari berikhtiar. Sebagai Penjaga Pondok Penulis Pemula, saya tunggu tulisan berikutnya.
BalasHapus