Kaka Kiki

 

Sumber foto: https://pixabay.com




Kaka Kiki

Pada kesempatan menulis kali ini saya diberi kesempatan untuk berimajinasi tentang dua hewan yakni anjing dan kucing. Tulisan yang saya buat saat ini sebenarnya adalah  imajinasi belaka berupa pengalaman bersama kedua hewan. Dari google saya mendapatkan sepenggal deskripsi tentang anjing yakni hewan mamalia yang telah dijinakkan dari serigala. Anjing merupakan hewan yang setia, cerdas dan pandai menjaga tuannya. Berdasarkan sifatnya-sifatnya ini, maka anjing banyak dipelihara manusia.

Kaka adalah nama anjing yang kami  miliki pertama kali, ketika kami menikah. Kaka juga teman perjalanan istri saya sebelum  kami menikah. Saat istri saya bertugas  sebagai pendeta pada Gereja Masehi Injili di Timor tepatnya di Jemaat GMIT Oelbiteno. Jemaat Oelbiteno berada Kecamatan Fatule'u Tengah. 

Kaka memiliki ciri ciri fisik antara lain: memiliki bulu berwarna hitam seluruhnya, telinga agak runcing, ekor dengan bulu yang lebih lebat.  Ia memiliki suatu kebiasaan yang unik yakni setiap hari Minggu akan ikut berbakti ketika istri saya memimpin ibadah di gereja. Ia ikut berdiri dan berdoa di ruang persiapan Majelis Jemaat yang disebut konsistori, berbaring di bawah mimbar saat istri saya berkhotbah,, saat selesai ibadah Kaka akan ikut berdoa bersama para anggota Majelis Jemaat di konsistori.

Kebiasaan–kebiasaan ini terus dilakoni oleh Kaka saat istri saya berpindah tugas di jemaat yang baru yakni di Jemaat Siloam Oelbioin, Kecamatan Fatule'u. Ada cerita unik ketika kami sedang mengurus persiapan untuk menika di Kota Kupang, sementara  Kaka   tetap tinggal di Pastori jemaat. 

Ketika hari Minggu tiba ketika lonceng gereja berdentang, Kaka pun ikut bergegas ke dalam gereja mengikuti ibadah. Ketika ibadah usai Kaka  pulang ke Pastori. 

Ada pesan moral yang kami dapatkan bahkan diungkapkan oleh beberapa anggota Majelis Jemaat, bahwa  Jika  Kaka saja yang adalah hewan yang tidak berakal budi tapi tahu beribadah pada hari Minggu, bagaimana dengan kita yang adalah manusia  berakal budi? Apakah kita tahu mengucap syukur dan beribadah?

Kaka terus menjalani kehidupan hingga termakan usia mencapai kurang lebih delapan tahun. Ia meninggal. Jasadnya kami bungkus dan kuburkan layaknya jasad manusia. Kami mengenang dirinya pada nilai kesetiaan.  

Kiki adalah nama kucing yang kami miliki. Sekitar tahun 2013 hingga tahun 2019 kami menempati rumah pastori Klasis Fatule'u Barat yang berpusat di Camplong. Saat itu istri saya menjabat sebagai Ketua Klasis. 

Kiki  memiliki sepasang kaki depan yang tidak sempurna sehingga jalannya seperti terseok–seok. Dengan ciri–ciri memiliki bulu lembut berwarna hitam putih. Kiki memiliki kebiasaan jika berada dekat kami ia akan berusaha untuk mengeluskan bulunya yang halus pada tubuh kami. Walau memiliki kaki depan yang tidak kuat dan tidak selincah kucing pada umumnya, namun selama kurang lebih enam tahun bersama kami.

Kiki tergolong kucing yang setia, setia pula dalam merawat anak–anaknya. Ada pesan moral yang kami dapatkan dari Kiki  walau dalam keterbatasannya dia tetap setia menjalankan tugas dan perannya sebagai seorang ibu yang terus merawat anak – anaknya.

Dua hewan ini sesungguhnya tidak bisa akur, seiring-sejalan. Sering kita manusia bertengkar diidentikkan dengan ungkapan seperti anjing dan kucing .  

Dari kisah kedua hewan ini saya belajar dua hal, Pertama sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang tau bersyukur, sebab bukan karena bahagia dia bersyukur tetapi karena tahu bagaimana cara bersyukurlah yang membuat dia berbahagia. Kedua sesungguhnya setia itu mahal, karena itu setialah dalam perkara–perkara kecil, maka niscaya perkara besar akan dipercayakan padamu.

 

 



Penulis: Alex Faot
Editor: Admin

 

Komentar

  1. Terima kasih untuk waktu belajar berharga ini terima kasih bapa Roni

    BalasHapus
  2. Cerita ini mengajarkan saya untuk selalu SETIA DALAM MENGERJAKAN SESUATU
    baik itu hal kecil maupun besar saya harus tetap SETIA mengerjakannya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏

    BalasHapus
  3. Benar bahwa dr makhluk ciptaan Tuhan yang lain,kita dapat belajar nilai kehidupan

    BalasHapus
  4. pak Alex, ingat selalu untuk membaca; sesibuk-sibuknya sebagai guru pembina untuk rekan-rekan di sekolah, tetaplah harus ada waktu membaca. Sesibuk-sibuknya sebagai Koster.. hehe... ingat untuk membaca. Membaca sebagai sarana untuk menutrisi otak kita. Otak kita daya tampungnya lebih banyak daripada hard disk .. hehe.. Memang patut diakui bahwa da keterbatasan kita, tapi mari berikhtiar. Sebagai Penjaga Pondok Penulis Pemula, saya tunggu tulisan berikutnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu tak Beristirahat

Fuaboon Sufa'

Kualitas Isian Waktu Liburan